• Empat Mahasiswa IPB Raih Golden Medal Berkat Gula Cair Dari Kulit Singkong

    Empat Mahasiswa IPB Raih Golden Medal Berkat Gula Cair Dari Kulit Singkong

    Indonesia  termasuk  lima  negara  penghasil  singkong  terbesar  di  dunia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2014 tingkat produksi singkong nasional mencapai 23.458.128,00ton. Pengolahan  singkong  akan  menghasilkan  limbah  yang  jumlahnya cukup besar. Persentase kulit  singkong  yang dihasilkan berkisar antara  15-20 persen  dari  berat  umbi,  dengan  persentase  lapisan  periderm  sebesar  0,5-2 persen dan  kulit  bagian  dalam  (corteks)  berwarna  putih  mencapai  8-19,5 persen.

    Kulit singkong yang diperoleh dari tanaman singkong (Manihot esculenta) merupakan limbah agroindustri seperti industri tepung tapioka, industri fermentasi, dan industri produk makanan. Industri pengolahan umbi singkong tersebut menghasilkan kulit singkong yang pada umumnya dibuang sebagai limbah. Saat ini pemanfaatan kulit singkong segar sebagai pakan ternak hanya  dilakukan  dalam jumlah yang terbatas, karena bila diberikan dalam jumlah yang  besar dapat menimbulkan keracunan akibat adanya sianida (HCN) yang dapat menyebabkan kematian.

    Berangkat dari konsep  zero waste, empat mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) mengolah limbah kulit singkong menjadi gula cair. Mereka adalah Farauq Arrahman, Galih Nugraha, PutriVionita (ketiganya dari Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen) dan Abdul Azis (Departemen Agronomi dan Holtikultura, Fakultas Pertanian).

    Proses pertama pembuatan gula cair dari pati kulit adalah pengenceran kulit (diblender), setelah itu  bubur kulit singkong dimasukkansejumlahenzimalfa-amilase. Selanjutnyatahap sakarifikasi dengan cara patiyang telahterpecahmenjadi dekstrin,selanjutnyadidinginkandari suhu 105derajat celcius (oC)menjadi 60oC, kemudiandimasukkan kedalam toples kacasakarifikasidenganpenambahanenzimamiloglukosidase.

    Setelah melalui proses sakarifikasi kemudian masuk ke dalam proses pemucatan denganarangaktif. Tahap selanjutnya, dilakukan penyaringan dan proses penguapan (Evaporasi) untukmemekatkanhasil gula cairdari 30-35 brix sampai 43-80 brix.

    Hasilnya gula cair dari kulit singkong mengandung energi sebesar 106 kilo kalori sementara gula pasir mengandung energi sebesar 364 kkal/100 gram (g). Sedangkan gula aren mengandung energi sebesar 368 kkal/100g dan untuk gula kelapa yaitu dengan kalori 386 kkal/100g. Bahan pemanis lain yang biasa digunakan yaitu madu memiliki kalori 294 kkal/100g.

    Gula cair dari kulit singkong mengandung energi yang lebih rendah yaitu kurang dari sepertiga dari energi yang terdapat dalam gula pasir. Hal ini menunjukkan bahwa gula cair yang terbuat dari kulit singkong menggunakan metode hidrolisis enzimatis dengan bantuan enzim alfa-amilase dan enzim amiloglukosidase merupakan gula cair fruktosa yang rendah kalori yaitu sebesar 106 kkal/100 g.

    “Sehingga gula cair ini dapat digunakan untuk penderita diabetes yang menginginkan minuman manis. Selain itu kandungan lemak gula cair dari kulit singkong ini lebih rendah dibandingkan dengan gula kelapa sehingga dapat menjadi alternatif penggunaan gula selain gula kelapa. Gula cair dari kulit singkong cocok digunakan untuk diet karena kandungan kalorinya yang rendah yaitu 106 kkal/100 g,” ujar Galih.

    Produkinovasitim IPB inidiberi nama “GUCAKUSI” yakni produki novasi berupa gula cair yang terbuat dari limbah kulit singkong. Gucakusi memiliki empat jenis produk yang ditargetkan pada pasarnya masing-masing. Pertama, gula cair dikemas dalam botol besar untuk ibu rumah tangga. Kedua, gula cair dikemas dalam botol untuk traveller. Ketiga, gula cair dikemas dalam sachet untuk produk instan. Keempat, gula cair dikemas dalam jumlah besar (barrel).

    Dalam Event Macau Internasional Innovation dan Invention Exhibition (MIIIE) 2015, Tim Gucakusimemperolehpencapaian yang membanggakanyaknimemperoleh Golden medal dantiga special Award.